Anggota Dewan Nganjuk Temukan Beras Pengganti Bansos Tunai Bermutu Buruk

  • Whatsapp
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Nganjuk, Edy Santoso, memperlihatkan paket beras bermutu buruk hasil temuannya.

NGANJUK, TelisikPos.com – Rupanya, ada saja oknum yang memanfaatkan mengambil keuntungan dibalik pandemi Covid-19 di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Betapa tidak, beras bantuan jaringan sosial berupa beras kemasan 20 kilogram didistribusikan kepada warga terdampak Covid-19 pengganti bantuan yang tunai sebesar Rp 200 ribu.

Namun dalam praktiknya, ada temuan beras dinilai tidak layak konsumsi. Selain itu, harga per kilogram tembus kisaran Rp 10 ribu per kilogram.

Hal ini diungkap Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Nganjuk, Edy Santoso. Pihaknya menemukan beras berkualitas buruk, saat melakukan sidak dengan menggunakan metode sampling 3 (tiga) Desa yakni Desa Ketawang, Desa Kedungglugu dan Desa Senjayan, Kecamatan Gondang.

“Kemarin sidak tiga desa, semuanya masuk Kecamatan Gondang dan mengatakan (hasilnya,red) seperti itu, tidak baik semuanya. Itu sudah saya buka satu-satu per sak-nya,” katanya pada wartawan, Kamis (28/5/2020).

Atas temuannya dalam sidak itu, Edy Santoso berniat segera memanggil distributor dan dinas terkait yang membidangi. Mengingat, komisi yang dipimpinnya ini, membidangi Kesejahteraan Rakyat termasuk penanganan bencana, pengadaan pangan dan logistik.

“Saya akan panggil dinas sosial, sama siapa saja yang mendistribusikan beras seperti itu. Saya tidak ingin warga Nganjuk dengan adanya wabah ini dipermainkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, kita menginginkan kualitas dan harga sesuai yang kita (DPRD,red) sepakati bersama-sama dengan Pemkab,” tegas politisi Partai Hanura ini.

Bilamana pada nantinya ada indikasi permainan untuk melancarkan pengadaan beras, karena pada praktiknya ada dugaan dengan menyamarkan menggunakan nama Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan berdalih ingin hidupkan ekonomi desa. Pihaknya akan menyerahkan persoalan pada penegak hukum.

“Bantuan itu dari Kabupaten Nganjuk dalam bentuk uang Rp 200 ribu, tapi dibelanjakan beras 20 kilogram. Seharusnya dibelikan Rp 9.500 (per kilo) itu kan kualitas bagus, yang 500 untuk pengepakan dan distribusi, kan bisa. Masa’ kita sudah kena wabah, masyarakat juga tidak bisa kerja. Terus memberikan bantuan beras saja dipermainkan,” tandasnya. (ari/tp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *