Bebas Karena Asimilasi, Delapan Warga Binaan Lapas Probolinggo Sujud Syukur

  • Whatsapp
Delapan warga binaan Lapas Probolinggo, melakukan sujud syukur setelah mendapat asimilasi dari KemenkumHAM.

PROBOLINGGO, TelisiPos.com – Delapan narapidana (napi) penghuni Lapas kelas IIB Probolinggo, dipulangkan, Kamis (15/7/2021) siang. Mereka mendapat asimilasi Covid-19 dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM).

Delapan warga binaan yang terlibat berbagai kasus tersebut, dilepas Kepala Lapas setempat, Risman Soemantri. Sebelum keluar dari lapas, napi yang seluruhnya berjenis kelamin laki-laki itu melakukan sujud syukur.

Di depan pintu lapas, mereka disambut sanak keluarganya dengan berpelukan diiringi tetesan air mata kegembiraan.

Usai acara pelepasan, Risman Soemantri menjelaskan, delapan warga binaannya mendapat assimilasi, seminggu sebelumnya yakni tanggal 9 Juli 2021, pihaknya juga melepas 14 napi.

Pelepasan 22 warga binaan tersebut merupakan gelombang kedua di 2021. Pada gelombang pertama napi yang bebas bersyarat sebanyak 36 orang.

Dengan demikian, selama tahun 2021, Lapas yang berlokasi di timur Alun-alun Kota Probolinggo tersebut membebaskan napi sebanyak 58 orang. Mereka mendapat asimilasi Covid-19 dari pemerintah pusat.

“Bukan bebas murni, tapi bersyarat. Mereka wajib absensi online sebulan tiga kali ke Balai Pemasyarakan (BAPAS) Malang,” tandasnya.

Jika dalam menjalankan hukuman di rumah atau di masyarakat melanggar, napi asimilasi akan dikembalikan ke Lapas. Misalnya, lanjut Risman, mereka melanggar Prokes atau PPKM Darurat. Kalau ada yang melapor, mereka akan dibina di Lapas lagi.

“Sama, kalau mereka melakukan tindak kriminal selama asimilasi, akan dibina di Lapas,” tegasnya.

Disebutkan, warga binaan tidak mudah mendapat asimilasi. Selain rekam jejak selama di Lapas, mereka juga harus mendapat persetujuan keluarga, korban atau warga sekitar tempat tinggalnya. Jika ada yang keberatan dengan berbagai alasan, maka tidak akan menerima asimilasi.

“Bisa saja mereka ditolak. Misalnya ada warga yang takut kalau mereka pulang,” ujarnya.

Petugas yang manvalidasi napi dan meminta pendapat atau keterangan ke warga sekitar dan keluarganya adalah BAPAS. Pihak lapas hanya mengusulkan dan menyerahkan rekam jejak selama napi dibina di Lapas.

“Kami hanya mengusulkan. Yang validasi ke lapangan petugas Bapas. Surat pelepasannya dari Bapas,” katanya.

Karena itu, selama berada di luar atau berasimilasi dengan keluarga dan masyarakat, mereka dipantau dan diawasi Bapas.

Saat ditanya syarat untuk mendapat asimilasi Risman menjawab, mereka yang sudah menjalani hukuman setengah dari putusan pengadilan. Selain itu, putusan hukumannya pada tanggal 21 Desember, mencapai dua per tiga (2/3).

Ditambahkan, program asimilasi dimulai 2020 saat virus Corona melanda Indonesia. Program tersebut dimaksudkan mengurangi warga binaan terpapar virus Corona, lantaran berkerumun akibat penghuni overload.

Dari program tersebut, kini penghuni Lapas IIB Probolinggo sebanyak 600-an napi. “Masih onerload. Kapasitasnya kan 300-an napi. Ini mending dibanding sebelumnya,” ungkapnya.

Diharapkan, napi asimilasi saat di rumah tinggalnya bisa kembali berbaur dengan keluarga dan masyarakat. Dari rasa senang itu, juga diharapkan agar imun atau kekebalan terhadap serangan Covid 19 meningkat. Hingga bisa mengurangi jumlah warga yang positif virus Corona.

“Keluarga dan napi asimilasi sama-sama senang berkumpul bersama keluarga. Bahagia itu kan meningkatkan imun,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu Rusman menjelaskan, mereka yang berhak mendapatkan assimilasi adalah napi kasus kriminal atau tindak kejahatan lainnya yang hukumannya di bawah 5 tahun. Sedang napi yang terlibat kasus korupsi, traficking, teroris, narkoba atau kasus lain yang diputus PN di atas 5 tahun tidak mendapatkan asimilasi.

“Ilegal loging dan ilegal fishing juga tidak dapat asimilasi,” pungkasnya.

Sementara salah seorang warga binaan yang menerima assimilasi, Alex Wahyudi mengaku bersyukur atas asimilasi yang diterimanya. Sehingga dirinya bisa berkumpul bersama keluarga dan bisa berasimilasi lagi dengan tetangga dan teman-temannya.

“Senang kami bisa keluar. Saya berjanji akan berbuat baik dan tidak akan berbuat kesalahan lagi,” katanya singkat usai berpelukan dengan istri dan dua anaknya. (mo/wb)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *