Dua Proyek Rehab Drainase/ Trotoar di Jombang Terancam Molor

  • Whatsapp
Proyek rehabilitasi drainase/trotoar Jalan Pahlawan Jombang.

JOMBANG, TelisikPos.com – Dua proyek rehabilitasi drainase/ trotoar di Kecamatan/ Kabupaten Jombang, terancam tidak rampung. Hal ini bisa diketahui, hingga menjelang akhir tahun 2019, yakni Rabu (25/12/2019), proyek yang dianggarkan Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang, masih menyisakan sejumlah pekerjaan.

Keduanya yakni proyek rehabilitasi drainase/ trotoar Jalan Pahlawan Kecamatan Jombang, dan Jalan Mayjen Sungkono Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang. Kedua proyek ini dikerjakan CV Pancamarga. Namun, berbeda konsultan pengawas dan besaran anggaran.

Bacaan Lainnya

Pantauan di lokasi proyek Jalan Pahlawan, tampak sejumlah pekerja sedang sibuk melakukan kegiatan proyek di utara jalan bagian timur. Selain itu, ada juga pekerja yang bekerja di selatan jalan bagian barat atau dekat traffic light.

Juga tampak di lokasi ini, bahan material diantaranya berupa U Ditch beton, bata merah, pasir yang diletakkan di bahu jalan.

Hal sama juga terjadi di lokasi proyek Jalan Mayjen Sungkono Tunggorono. Selain terdapat pita warna kuning hitam di ujung barat proyek, juga terjapat material U Ditch beton yang belum dipasang. Hanya saja, tidak tampak pekerja di lokasi ini.

Sayangnya, salah satu pekerja di lokasi proyek Jalan Pahlawan, enggan menjawab kapan proyek rehabilitasi drainase/ trotoar ini selesai dikerjakan. Mereka memilih diam saat ditanya wartawan ini, dan memilih tetap mengerjakan proyek tersebut.

Selain terancam tak selesai, dua proyek drainase/ trotoar tersebut, juga memiliki kejanggalan. Yakni, tidak dicantumkan secara rinci jangka waktu pengerjaan proyek tersebut pada papan proyek. Di dua papan proyek, hanya menyebutkan hari kalender saja, yaitu tahap pengerjaan selama 120 hari. Tidak ada penjelasan kapan proyek tersebut dimulai dan berakhir.

Sementara nilai kontrak pada proyek Jalan Pahlawan sebesar Rp 898.980.686,92 dengan konsultan pengawas CV Banyubening. Sedangkan proyek Jalan Mayjen Sungkono senilai Rp 357.989.329,44 dan konsultan pengawasnya CV Architama Consultan.

Terpisah, salah satu kontraktor yang tidak mau namanya dicantumkan terkait persoalan ini mengatakan, jika pekerjaan tidak selesai pada waktu yang ditentukan, maka bisa saja proyek tersebut putus kontrak. Mengingat, pekerjaan merupakan single year, bukan multiyears (tahun jamak).

Dijelaskannya, bila terjadi putus kontrak, sesuai aturan dalam UU Jasa Kontruksi dan Perpres, maka pembayaran dilakukan sesuai opnam pekerjaan dan jaminan pelaksanaan dicairkan dan sisanya dimasukkan ke kas negara.

“Bukan itu saja, perusahaan yang wanprestasi dan mengalami putus kontrak juga harus di blacklist (daftar hitam) selama dua tahun masa anggaran. Artinya, perusahaan yang bersangkutan tidak boleh aktif dan mengerjakan proyek ataupun ikut pelelangan selama masa pembekuan 2 tahun,” terangnya.

Dia juga menandaskan, agar dinas terkait dalam hal ini Dinas Perkim Jombang harus tegas kepada pelaksana dua proyek tersebut. Pihaknya juga mengingatkan, agar tidak ada permaianan dalam penerapan aturan.

“Kalau memang percepatan sebelum tutup anggaran tidak memungkinkan, ya diputus kontrak sesuai amanat konstitusi apabila melewati tutup anggaran. Saya hanya mewanti-wanti tidak ada permainan dalam situasi seperti ini,” tegasnya. (rud/fan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *