Ekspor Terganggu Sebab SKA Langka, GPEI Jatim Desak Kemendag Beri Kewenangan Daerah

  • Whatsapp
Ilustrasi

SURABAYA, TelisikPos.com – Kinerja ekspor Indonesia dipastikan terganggu dalam beberapa pekan belakangan. Bahkan, gangguan akibat formulir Surat Keterangan Asal (SKA) yang tak kunjung didapat fisiknya tersebut bisa berlangsung tanpa ketentuan batas waktu.

Kekosongan blangko SKA yang dicetak Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI ini diakui kalangan eksportir nasional. Buntutnya, lampiran kelengkapan dokumen barang ke negara tujuan ekspor yang tidak bisa dialihkan kewenangan pengadaannya ke daerah ini berujung kelangkaan.

“Sudah dua minggu ini tidak bisa mendapatkan SKA untuk komoditas ekspor kami. Sungguh sangat mengganggu percepatan pengiriman ke negara tujuan ekspor,” ungkap sumber yang enggan disebut namanya.

Sumber di lingkungan eksportir nasional ini menyebut, blangko SKA, utamanya form A dan D sulit diperoleh alias kosong. Kekosongan form SKA ini, lanjut sumber, tidak hanya terjadi di Jawa Timur, melainkan juga terjadi di daerah lainnya.

“Apalagi, pencetakan form SKA ini adalah kewenangan Pusat (Kemendag, red). Kami tidak bisa apa-apa. Karena, nggak mungkin kami dapat di daerah,” keluhnya.

Menanggapi fenomena kelangkaan SKA ini, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur, Isdarmawan Asrikan tak menampik hal tersebut. Diakui, upaya dukungan sempat dilakukan ke IPSKA terdekat, seperti dari Gresik dan Banyuwangi.

“Kami mendapat support, itu pun dalam jumlah yang sangat terbatas,” jelas Pak Is, sapaan akrab eksportir Jawa Timur ini.

Menyoal ini, ia menduga, lambatnya kinerja lembaga terkait dalam pengadaan SKA ini akibat monopoli kewenangan tanpa pelibatan instansi pemerintah di daerah. Ia pun mendesak, Kemendag RI selaku pihak penerbit SKA satu-satunya di Indonesia bisa mempercepat pencetakan formulir yang dibutuhkan para eksportir untuk legalitas pengiriman barangnya.

“Agar Dinas Perdagangan Provinsi diberi kewenangan mencetak sendiri. Ini untuk membantu kecepatan pelayanan dokumen ekspor. Karena, dengan kelambatan sangat mengganggu cash flow eksportir,” tukas Isdarmawan dihubungi selulernya.

Dalam kesempatan tersebut, Isdarmawan berharap, Presiden Joko Widodo turut turun tangan dan memberikan perhatian khusus terhadap kelangkaan form SKA yang melilit eksportir. Ia menilai, perhatian Kepala Negara pada masalah ini adalah wajar dan sangat berarti untuk memecahkan hambatan ekspor tersebut.

“Kami anggap kelangkaan form SKA seperti yang terjadi di Jatim dan beberapa daerah lain adalah sangat kontra produktif dengan apa yang dicanangkan Presiden untuk meningkatkan dan menggenjot ekspor,” tandasnya.

Untuk diketahui, betapa pentingnya Surat Keterangan Asal Barang (SKA) atau Certificate of Origin (COO) yang harus di input. Sebab, salah satu dokumen penting yang diperlukan untuk melakukan ekspor adalah SKA.

Mengutip beberapa referensi yang ada, salah satu kebijakan dalam regulasi yang dikeluarkan pemerintah adalah terhadap pentingnya SKA adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 33/M-DAG/PER/8/2010 tentang Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) Untuk Barang Ekspor Indonesia.

SKA ini untuk memperoleh fasilitas bea masuk maupun sebagai alat perhitungan quota di negara tujuan, atau untuk mencegah masuknya barang dari negara terlarang. Keberadaan SKA sebagai dokumen didasarkan muatan persetujuan perdagangan multilateral yang dilampirkan dalam naskah pembentukan World Trade Organization (WTO).
.
Diterbitkannya SKA sebagai dokumen ekspor wajib disertakan dalam melaksanakan ekspor barang suatu negara ke wilayah negara lain. Hal ini tak lepas dari perjanjian bilateral, regional maupun multilateral terhadap keberadaan SKA yang merupakan suatu peraturan yang disepakati mengenai Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin), sekaligus menjadi penyelesaian persengketaan. (ms/tp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *