Gerebek Rumah Pengolahan Ayam Tiren di Mojokerto, Satu Pelaku Diamankan

  • Whatsapp
Kapolres saat merilis pelaku dan barang bukti di Mapolres Mojokerto.

MOJOKERTO, TelisikPos.com – Rumah Alex Suwardi (54) di Dusun Balong Lombok, Desa Bolong Mojo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, yang digerebek polisi.

Bukan tanpa sebab, rumah Alex diduga menjadi tempat pengolahan jeroan ayam mati kemarin (Tiren) yang disalurkan ke pasar tradisional.

Dari penggerebekan yang dilakukan, polisi mengamankan satu pelaku beserta belasan kilogram ayam mati siap dikirim.

Kapolres Mojokerto, AKBP Setyo Koes Hariyatno mengatakan, kasus ini terbongkar berawal dari laporan masyarakat. Selanjutnya, polisi mengecek ke lokasi dan mengetahui sejumlah pekerja sedang beraktivitas memotong ayam tiren.

“Kami amankan seorang pelaku Alex Suwardi, warga asal Malang, pada Sabtu (9/11/2019). Dia adalah sebagai pemiliknya,” ungkap AKBP Setyo Koes Hariyatno, Senin (11/11/19).

Di lokasi pengerebekan, petugas mendapati banyak ayam tiren yang siap diedarkan. Keterangan yang diperoleh, ayam-ayam tersebut bakal dijual kembali di wilayah Malang dengan harga lebih murah.

“Pelaku ini hanya sebagai pengelola. Dia mendapatkan ayam yang sudah mati dari seseorang di wilayah Gondang. Kemudian diolah kembali dengan cara diambil pada bagian jeroannya dan dipisahkan dengan dagingnya,” terangnya.

Dari situ, kemudian dipacking dan dimasukkan ke dalam mesin pendingin dan dijual. Keterangan pelaku, penjualan ayam tiren diambil langsung seseorang dari wilayah Malang.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pengembangan, terkait sudah berapa lama dia beraksi. Sebab pelaku mengaku, belum sampai mengedarkan ayam tiren tersebut, namun keburu tertangkap.

Tak hanya itu, untuk memastikan ayam tiren mengandung zat berbahaya, polisi juga meminta pihak Dinas Peternakan dan dokter hewan Kabupaten Mojokerto, untuk memeriksanya.

“Hasilnya, ayam-ayam ini memang berbahaya,” jelasnya.

Sementara itu, Alex pemilik produksi ayam tiren mengaku, sudah bertransaksi dengan pengusaha peternakan sebanyak dua kali.

“Pertama saya dikirimi dua kilo, kemudian dikirim lagi 10 karung sak ayam mati. Namun, saya kembalikan tujuh karung karena kebanyakan,” jelasnya.

Setiap satu kilogram ayam tiren yang sudah dikelola, pelaku menjual kembali dengan harga di bawah umum, yakni sebesar Rp15 ribu perkilogramnya.

“Kalau dari peternak, ayam mati per satu kilogram saya beli dengan harga dua ribu rupiah,” ujarnya.

Akibat perbuatannya, pelaku terjerat undang-undang perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (fan/tp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *