Harapan Baru Data Jagung Jawa Timur

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh: Sabiq Sofyan (Mahasiswa Politeknik Statistika)

Sektor pertanian, khususnya sub sektor tanaman pangan, memiliki peran sangat penting dalam menunjang kehidupan sebagian besar penduduk Indonesia. Tidak terkecuali Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu provinsi penyumbang sektor pangan terbesar di Indonesia.

Namun sektor pertanian, khususnya data pangan, masih menjadi polemik berkelanjutan hingga sekarang. Terutama dalam menentukan berapa ketersediaaan pasokan dan kebutuhan pangan di Indonesia. Tidak hanya pada komoditi beras yang menjadi polemik, namun juga jagung.

Selalu ada perdebatan tiap kali pemerintah melakukan impor. Ketersediaan data statistik pangan yang objektif dan akurat, sangat dibutuhkan untuk menjadi rujukan dalam perencanaan, dan evaluasi, agar segala kebijakan yang diambil pemerintah tepat sasaran. Sehingga pengambilan keputusan yang dilakukan menjadi lebih efektif dan efisien.

Hal ini mengindikasikan, bahwa masih terdapat masalah pada pendataan produksi data pangan sehingga perlu adanya inovasi perbaikan.

Sejak tahun 2018, pemerintah menerapkan fokus pada tiga sektor utama untuk dikembangkan, salah satunya adalah sektor pertanian. Sektor pertanian ini dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomii dan investasi di Indonesia. Dengan adanya fokus di sektor pertanian tersebut, tentunya kebutuhan data yang akurat sangat penting agar bisa menentukan kebijakan yang tepat dalam pembangunan sektor pertanian tersebut.

Dari sekian banyak data pangan, salah satu data pangan yang paling menjadi polemik ialah beras. Namun, permasalahan data beras itu sudah berhasil terjawab tahun 2018 lalu oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui dikembangkannya metode baru yaitu Kerangka Sampel Area. Metode ini pun mendapat banyak pujian mengenai hasilnya termasuk dari Wakil Presiden, Jusuf Kalla.

Namun nyatanya, tidak hanya beras saja polemik data pangan. Salah satunya data yang menjadi polemik ialah data jagung. Ketidaktersediaan jagung yang tidak sesuai data yang ada sempat terjadi membuat industri peternakan sulit mendapatkan pasokan pakan jagung.

Bila dilihat pada data 2018 dari Kementan misalnya, impor jagung nasional tercatat sebanyak 731 ribu ton atau senilai USD 154,7 juta. Sementara itu, pada saat yang sama, data Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan bahwa produksi jagung diperkirakan mencapai 30,05 juta ton pipilan kering. Dengan angka konsumsi nasional hanya sebesar 15,5 juta ton, artinya impor dilakukan ketika surplus produksi mencapai 14,6 juta ton.

Karena itu, sejumlah pakar mensinyalir bahwa data produksi jagung tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Angka produksi sebenarnya pada 2018 diyakini hanya sebesar 16,5 juta ton pipilan kering.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang membatasi impor jagung sejak 2016 karena produksi dalam negeri yang dianggap mencukupi juga memicu kenaikan harga ayam, daging ayam, dan telur pada tahun lalu akibat lonjakan harga pakan ternak.

Terhitung sejak tahun 2016, BPS sudah puasa untuk memproduksi jagung. Terakhir data produksi jagung yang dirilis ialah tahun 2015. Pada tahun ini, tercatat bahwa produksi jagung di Indonesia tercatat sebanyak 19,61 juta ton. Jawa Timur merupakan penyumbang produksi jagung terbesar yaitu 6,13 ton, dan Kabupaten Tuban menjadi penyumbang produksi terbesar sebnayak 506,966 ribu ton. Puasa produksi data jagung tersebut dikarenakan perlu metodologi baru yang lebih relevan dalam menghitungnya.

Setelah BPS sukses merilis hasil data beras dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area pada tahun 2018, BPS ditantang untuk memperbaiki data produksi jagung. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan yang membuat BPS menjadi sorotan untuk memperbaiki data jagung ini. Usai melakukan penelitian yang cukup panjang, harapan akan lahirnya inovasi baru dalam pendataan jagung terbuka lebar.

Pada tahun 2019 ini, Badan Pusat Statistik menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam penyusunan sistem dan kerangka sampel area jagung yang juga akan mengawali perbaikan data jagung ini dengan metode kerangka sampel area (KSA) pada bulan April.

Sebenarnya, seperti apakah Kerangka Sampel Area (KSA) Jagung itu? KSA Jagung merupakan metode yang dilakukan dalam rangka memperbaiki data luas panen Jagung. KSA Jagung ini dilakukan dengan suatu metode yang sifatnya objektif dan menggunakan teknologi modern melalui perangkat smartphone sebagai alat ukurnya.

Berbeda dengan sebelumnya, dimana data luas panen hanya dikumpulkan melalui hasil pandangan mata petugas pengumpul data atau yang disebut eye estimate yang sangat subjektif dan rendah jaminan dari tingkat akurasinya.

Selain itu, kehebatan lain dari KSA ini ialah tidak membutuhkan sinyal dalam penggunaannya. Selain itu, dalam pengumpulan datanya dilakukan pengamatan terhadap fase tumbuh tanaman jagung pada segmen-segmen terpilih yang berukuran 100m x100m atau seluas 1 hektar dalam setiap segmennya. Setiap bulan, akan dipantau fase pertumbuhan tanaman jagung pada titik yang sama. Pemantauan ini membuat kita dapat mengestimasi seberapa luas lahan panen jagung yang ada pada setiap bulannya di berbagai tempat.

Melihat bagaimana keefektifan metode KSA dan telah menjadi harapan dari berbagai pihak untuk memperbaiki data pangan, semoga dengan adanya upaya untuk perbaikan data jagung ini melalui KSA ini, polemik yang terjadi akibat ketidakakuratan data akan teratasi.

Selain itu, hasil dari KSA Jagung ini, kita menantikan untuk menjadi dasar pertimbangan pengambilan kebijakan pemerintah terutama Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu penghasil Jagung tebersar agar semakin maksimal dalam pemanfaatannya. Oleh sebab itu, mari kita dukung majunya harapan baru akan data jagung ini demi Indonesia yang lebih baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *