Pandemi, Produk Empon-empon Instan Warga Kota Probolinggo Malah Meningkat

  • Whatsapp
Dwi Astutik (48), menunjukkan produk usaha empon-empon instan miliknya di rumahnya jalan Gubernur Suryo Gang 1, Kelurahan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

PROBOLINGGO, TelisikPos.com – Jika usaha lain lesu karena pengaruh massa pandemi Covid-19, namun tidak dengan Dwi Astutik (48). Pengusaha rumahan yang salah satu produksinya jahe bubuk instan ini, malah meningkat.

Dikunjungi rumah tinggalnya, jalan Gubernur Suryo Gang 1, Kelurahan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur, Dwi Astutik tampak sibuk. Ia tengah mencuci jahe yang hendak dibikin jahe instan.

Jahe emprit yang dicampur dengan jahe merah tersebut, sebelum dicuci harus dikupas atau dibersihkan kulitnya. Sehabis dicuci bersih, bahan baku jahe bubuk tersebut dihancurkan dengan blander. Kemudian disangrai setelah diberi pemanis gula. Setelah dirasa matang, adonan tersebut didinginkan, lalu diblander lagi sebelum dikemas.

“Begitu proses pembuatan jahe instan,” jelas Dwi Astutik, Kamis (01/07/21) siang.

Istri Joko Waluyo (63) ini memproses jahe, karena persediaan atau stok di rumahnya hampir habis. Di masa pendemi Covid-19 ini, permintaan akan jahe lebih banyak dibanding sebelumnya. Hanya saja, peningkatannya tidak melonjak, sekitar 10 persen.

Warga butuh jahe, karena bermanfaat menjaga imun untuk menangkal penyebaran virus corona. Dikatakan, masyarakat enggan membuat minuman jahe sendiri, sehingga memilih yang lebih praktis dan siap saji.

“Salah satu pilihannya, jahe produksi kami. Ya, lumayan-lah, ketimbang di rumah nggak ada kerjaan,” katanya seraya tersenyum.

Dikatakan, permintaan jahe instan menurun berbanding lurus dengan meredanya virus corona kala itu. Karenanya, Dwi Astutik memproduksi jahe instan seminggu paling banyak dua kali. Sedang saat ini, satu kali dalam sehari. Sekali produksi sekitar 30 botol ukuran 100 gram.

“Namnaya industri rumahan yang dikerjakan sendiri sama suami, hanya segitu kemampuannya,” lanjutnya.

Istri pensiunan Perhutani ini mengaku, tidak hanya memproduksi jahe instan. Usaha rumahan yang diberi nama Dowifan ini juga membuat Kunyit Asam instan, Beras kencur, Temu Lawak, Kunci Sirih, Kunyit Putih dan Jahe Merah Instan. Dari semua produsksinya rata-rata dibandrol Rp15 ribu sampai Rp 20 ribu.

“Untuk bahannya, kami beli di pasar,” tambahnya.

Produk yang serba instan tersebut diawali dari pembuatan jahe instan 6 tahun lalu, yakni 2015. Kala itu ia yang sedang menganggur kepingin memiliki kesibukan. Atas bantuan informasi dari temannya, ia kemudian mengikuti pelatihan pembuatan jahe instan di Balai Latihan Kerja (BLK) jalan Brantas, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan.

Dari sanalah, kemudian usahanya dimulai hingga berkembang ke produk instan empon-empon yang lain. Teknik pemasarannya, melalui ketuk tular antar teman dan beberapa komunitas atau perkumpulan kegiatan yang diikuti. Selain itu, dipasarkan juga melalui online di media social (Medsos). Tentang hasilnya, bisa menambah gaji pensiunan suaminya.

“Bantu-bantu suami. Daripada bengong,” tukasnya.

Selama 6 tahun menapaki dan menjalankan bisnisnya, Dwi Astutik sudah memiliki nomor P-IRT (Produk Industri Rumah tTangga). Bahkan legalitas Halal dari MUI Indonesia, sudah ia kantongi. Ia juga memiliki Sertifikan Produksi Pangan Industri Rumah Tangga.

“Kami banyak dibantu Pemkot, sehingga memiliki usaha, meski kecil-kecilan. Legalitas yang kami dapat, didapat dengan gratis,” pungkasnya. (mo/tp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *