Penyekatan Jalan, PPKL Kota Probolinggo Menilai Berdampak Buruk

  • Whatsapp
Toko di Jalan Dr Sutomo, Kota Probolinggo banyak yang tutup karena sepi pengunjung akibat akses jalan ditutup.

PROBOLINGGO, TelisikPos.com – Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PPKL) Kota Probolinggo meminta, jalur protokol yang disekat pada Rabu (7/7/2021) sore kemarin, dibuka. Sebab, berdampak buruk terhadap ekonomi PKL.

Kondisi PKL yang sudah kembang-kempis akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, kini diperparah oleh penyekatan jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo. Tak hanya PKL yang berjualan di pinggir jalan protokol yang terdampak, mereka yang berjualan di trotoar Jalan Dr Sutomo, juga bernasib sama.

Meski ada sebagian yang membuka, namun dagangannya tidak laku. Karena tidak ada pengendara yang bisa lewat di jalan tersebut. Karenanya, PPKL meminta Wali Kota, Damdim 0820 dan Kapolres Probolinggo Kota, membuka jalur yang disekat.

“Penyekatan perlu dipertimbangkan, dipikirkan kembali,” ujarnya.

Ketua PPKL Kota Probolinggo, Munadi mengatakan, sehari pasca penyekatan atau pada Kamis (8/7/2021) siang, selain berdampak buruk terhadap penghasilan anggotanya, ia menilai, penyekatan dengan alasan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tanpa persetujuan DPRD.

“Benar, PPKM Darurat sudah kesepakatan pemerintah pusat hingga daerah. Kami menduga tanpa pertimbangan dari DPR sampai DPRD, sebagai kepangjangan tangan masyarakat,” katanya.

Perlu diketahui, lanjut Munadi, pedagang kecil sejak pandemi berlangsung, nyaris banyak yang gulung tikar. Karena faktor sepi pembeli sehingga dagangan atau jualannya tidak laku. Beban hidup yang terus mendera, tidak bisa diselesaikan dengan cara penguatan mental dan spritual.

“PKL mau saja diminta berdiam diri di rumah. Asal kebutuhan dasarnya dipenuhi sebagaimana diatur dalam UU tentang Kekarantinaan Kesehatan. Burung disangkar saja dikasih makan,” tandasnya seraya membandingkan.

Keluhan juga disampaikan Ahmad Saifi, pemegang salah satu merek smartphone. Sama seperti permintaan Paguyuban PKL. Ahmad yang membawahi beberapa sales yang bertugas di Mentari Cell mengatakan, pemerintah jangan hanya bisa melarang.

“Pikirkan juga petugas sales kami. Kalau toko tempat kami bekerja ini ditutup, pekerja kami dapat gaji dari mana,” katanya.

Mengingat, beberapa anak buahnya digaji berdasarkan jumlah produk yang dijual. Jika toko ditutup, maka mereka tidak bisa berjualan, sehingga tidak mendapat prosentase dari hasil penjualannya. Karenanya Saifi meminta, solusi agar anak buahnya tetap berpenghasilan.

“Beri kami solusi. Jangan hanya bisa melarang,” ungkapnya.

Saif kemudian menceritakan petugas Satgas Covid 19 yang meminta toko seluler tempatnya bekerja ditutup, Rabu (7/7/2021) sore kemarin. Alasannya, toko yang menjual barang yang tidak esensial atau bukan sembako, dilarang buka selama PPKM Darurat berlangsung.

“Kemarin pukul 17.00 WIB petugas menyuruh ditutup. Ya, kami tutup. Sekarang kami buka lagi. Tapi percuma, sepi, nggak ada pembeli blas,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar, Aman Suryaman membenarkan, pihaknya telah meminta toko selular yang ada di jalan Dr Sutomo ditutup. Karena menurutnya, di masa PPKM Darurat yang boleh membuka hanya toko yang berjualan barang eesnsial dan kritikal.

“Kami hanya menjalankan dan melaksanakan tugas. Yang boleh buka itu toko yang jualan produk esensial,” katanya singkat. (mo/tp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *