Restorative Justice, Tersangka Pencurian Helm di Bojonegoro Bebas

Kapolres Bojonegoro AKBP Muhammad, saat memberikan bantuan kepada ibu tersangka pencurian helm.

BOJONEGORO | TelisikPos.com – Polres Bojonegoro, Jawa Timur, akhirnya membebaskan tersangka kasus pencurian helm melalui “restorative justice” atau keadilan restoratif, Jumat (3/6/2022).

Aksi pencurian ini sempat terekam kamera pengintai alias CCTV dan viral di media sosial pada Minggu (15/5/2022) lalu

Restorative justice tersebut diberikan setelah polisi melakukan gelar perkara khusus dan pihak korban mau mencabut laporannya.

Kasat Reskrim Polres Bojonegoro, AKP Girindra Wardhana menjelaskan, kejadian tersebut berawal dari viralnya video CCTV pencurian helm di media sosial. Dan korban melaporkan kejadian yang dialaminya itu ke Polres Bojonegoro.

Dari laporan itu, Unit Reskrim Polsek Bojonegoro Kota segera melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil mengungkap dan mengamankan pelaku.

Dari hasil penyidikan, pelaku mengaku terpaksa mencuri helm karena butuh uang untuk membelikan obat ibunya yang sedang sakit.

Penyidik tidak langsung percaya atas pengakuan pelaku, sehingga penyidik melakukan kroscek ke rumah pelaku. Hasilnya, didapati jika ibu pelaku memang dalam kondisi sakit dan butuh perawatan.

“Kami bersama korban, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku dan keluarga, serta penyidik dan pengawas melakukan gelar perkara khusus restorative justice. Hasilnya kami sepakat, kasus pencurian helm dihentikan,” tutur AKP Girindra Wardhana.

Terpisah, Kapolres Bojonegoro, AKBP Muhammad menjelaskan, awalnya pihaknya tidak tahu kalau pelaku itu nekat mencuri karena butuh uang untuk beli obat ibunya.

Setelah tahu kondisinya demikian, penyidik berinisiatif menyampaikan kepada korban terkait situasi yang sebenarnya, hingga akhirnya korban tersentuh dan mau mencabut laporannya.

Kasus tersebut, kemudian dilakukan restorative justice melalui beberapa pertimbangan dari berbagai unsur.

“Pada prinsipnya, tujuan hukum itu tidak hanya masalah kepastian hukum tapi juga terkait dengan keadilan dan kemanfaatan. Oleh karena itu kita berkomunikasi dengan pihak korban, dijelaskan situasinya, kemudain pihak korban tersentuh dan mau mencabut laporannya dan menyelesaikan perkara ini secara restorative justice.” tutur Kapolres.

Selain dilakukan restorative justice, Kapolres Bojonegoro juga memberikan bantuan berobat kepada ibu pelaku. Harapannya, pelaku bisa memperbaiki prilakunya dan tidak mengulangi perbuatan yang dapat memperburuk masa depannya.

Untuk diketahui, restorative justice adalah suatu prinsip penegakan hukum dalam penyelesaian perkara yang dapat dijadikan sebagai instrumen pemulihan. Metode ini sudah dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dalam bentuk pemberlakukan kebijakan.

Penanganan kasus dengan restorative justice, merupakan langkah untuk mengikuti dinamika perkembangan dunia hukum yang mulai bergeser dari positivisme ke progresif. Hal itu, untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Menurut Pasal 1 Angka 27 Peraturan Kepala Kepolisian Negara RI Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana menyatakan, keadilan restoratif ini harus melibatkan pelaku, korban dan atau keluarganya, serta pihak terkait.

Hal ini bertujuan agar tercapai keadilan bagi seluruh pihak, namun pada pelaksanaannya dalam sistem peradilan pidana Indonesia belum optimal. Terdapat beberapa syarat dalam penyelesaian perkara dengan pendekatan restorative justice ini. (bb/ans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.