Seorang Guru MI di Kota Probolinggo Dinyatakan Terkonfirmasi Covid-19

  • Whatsapp
Ilustrasi

PROBOLINGGO, TelisikPos.com – Aktivitas belajar mengajar salah satu Madrasah Ibtidaiyah di (MI) Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dihentikan. Penyebabnya, karena seluruh pengajar dan pegawainya dikarantina. Setelah seorang tenaga pengajar yang berinisial NR dinyatakan terkonfirmasi Covid-19.

Penghentian KBM (kegiatan belajar mengajar) dimulai 15 Juni 2021 lalu hingga sekarang. Setelah NR diketahui positif virus Corona. Hal tersebut diungkap SF, Kepala MI lewat telepon selulernya, Rabu (23/6/2021) siang. Saat ditelepon ia berterus terang, tidak bisa menemui wartawan lantaran tengah menjalani karantina mandiri.

SF tidak boleh keluar rumah dan datang ke sekolahannya oleh pihak berwenang. Padahal, hasil tes Antigen dirinya, negatif. Begitu juga dengan guru yang lain. Ia dan sebagian besar rekan seprofesinya melakukan tes mandiri. Sedang sebagian lain, tes swab di tempat karantina Pemkot, Rusuanawa Mayangan.

“Hasilnya negatif semua. Kok malah kita tidak boleh kemana-mana,” katanya.

SF heran, mengapa seluruh rekannya tidak boleh kemana-mana. Padahal, sebelum NR dinyatakan positif 15 Juni lalu, tidak pernah mendatangi sekolah alias tidak pernah mengajar. Kesehariannya dihabiskan di pasar, berjualan.

“Sudah lama NR nggak ke sekolah. Kita tidak pernah belajar mengajar tatap muka. Ya, lewat Daring (dalam jaringan,” ungkapnya.

Saat ditanya, mengapa seluruh guru dikarantina ? SF menjawab, karena saat ditanya petugas kesehatan NR mengaku, berprofesi sebagai pengajar di MI. Karena pengakuan itulah kemudian seluruh guru dan pegawai lainnya, tidak boleh ke sekolah.

“Kita ke sekolah, hanya saat pembagian raport saja. Belajarnya ya pakai aplikasi,” ungkapnya.

Ditambahkan, NR positif setelah orang tua (ibu)-nya sakit dan dirawat di rumah sakit. Saat diswab, NR dinyatakan positif akibat tertular ibunya. Namun, hingga kini SF tidak melihat dan tidak pernah tahu bukti swabnya.

“Kita tidak tahu hasil tesnya. Saya tanya ke petugasnya, tidak diperlihatkan. Katanya ada di data. Loh kita butuh hasil swab, bukan data,” tandasnya.

Yang disayangkan oleh SF, hasil tes antigen yang dilakukan mandiri tidak diakui. SF tetap tidak boleh keluar rumah, sehingga melakukan karantina mandiri di rumahnya. Saran itu pun dilakukan dan ia menjalani karantina mandiri di rumah tinggalnya.

“Kok bisa tes Antigen tidak diakui,” tambahnya.

Saat ditanya, apakah sekolahannya dilockdown ? SF menjawab tidak. Hanya saja, tidak ada aktivitas kegiatan di sekolah yang dipimpinnya.

“Hngga saat ini tidak ada pembelajaran tatap muka, karena sekolah masih libur. Masuk sekolah kan masih Juli,” pungkasnya.

Sementara, Jubir Satgas Percepatan Penanangan Covid 19 dr Abraar Kuddah membenarkan, salah seorang pengajar di Madrasah Ibtidaiyah terpapar Covid-19. Saat itu juga, petugas Dinkes melakukan tracing (pelacakan) kepada orang yang kontak erat dengan pasien, seperti guru atau rekan korban lainnya, .

Saat ditanya variannya, Abraar belum mengetahui, apakah varian lama atau baru. Untuk mengetahuinya butuh waktu dan harus melakukan pemeriksaan PCR, bukan tes Antigen. Karena menurutnya, tes Antigen tidak bisa menentukan apakah virus tersebut varian baru atau lama.

“Pasien harus ikut arahan Dinkes. Karantina mandiri di rumah itu tidak boleh. Harus di tempat yang disediakan Dinkes,” pungkasnya. (mo/tp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *