Terdampak Pandemi, Pria di Kota Probolinggo Buka Jasa Jahit dan Permak Keliling

  • Whatsapp
Nanang Qosim, saat menerima order jahitan. Dia membuka jasa jahit dan permak dengan berkeliling di sejumlah titik di Kota Probolinggo.

PROBOLINGGO, TelisikPos.com – Hampir seluruh jenis usaha terdampak pandemi Covid-19. Termasuk Nanang Qosim (37), penjahit rumahan yang tinggal di jalan HOS Tjokroaminoto Gang Siam, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Tak ingin menyerah pada keadaan, dia mengubah sistem dan pola usahanya dengan berkeliling. Dua minggu lalu, pria asal Desa Tamansari, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo ini, berkeliling menawarkan jasa jahit dan permak busana. Bisa baju, celana bahkan jaket.

Saat ditemui TelisikPos.com pada Selasa (29/6/2021) pukul 13.00 WIB di sebuah warung, pria yang mengaku pernah sakit vertigo ini sedang istirahat setelah mulai pukul 08.00 WIB keliling menawarkan jasa dari pintu ke pintu. Sambil meneguk teh dinginnya, pria yang belum memiliki momongan tersebut bercerita usahanya.

Lelaki yang lebih dikenal dengan nama Nanang ini, mengubah pola jualan jasa menjahit dan permak dari menetap di rumah ke keliling, dipicu pendapatan. Menurutnya, kondisi ekonomi di masa pandemi Covid-19, tidak menjadi lebih baik. Bahkan, usahanya ngos-ngosan

“Kalau tetap pakai model nunggu di rumah, bisa-bisa kompor tidak ngebul,” katanya.

Ditambah, karena lama tidak bekerja akibat sakit vertigo dan syaraf selama 2 tahun. Selama sakit, Nanang tidak tinggal bersama istri di rumah mertuanya di Gang Siam. Tetapi tinggal bersama kakanya di Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

“Karena istri tidak kerja, ya ikut saya,” ujarnya.

Setelah dinyatakan sembuh, Nanang lalu balik dan tinggal di rumah mertuanya. Lantaran jahitan sepi, ia kemudian mengubah strategi usahanya dengan berkeliling. Dengan modal pas-pasan, ia membikin sendiri tempat mesin jahit dan sarana prasana pendukung lainnya. Rangka besi yang ditutup triplek dan banner buatannya, ditaruh di sepeda motornya.

Sambil membonceng alat usahanya, Nanang berkeliling mencari warga yang akan menggunakan jasanya. Saat berkeliling, ia tidak perlu bersuara keras dan nyaring untuk menawarkan jasanya, mengingat sepeda motornya dilengkapi sound system atau suara yang memberitahukan usahanya.

“Bikinan sendiri semua, termasuk sound. Pakai handphone dan speaker (pengeras suara),” tukasnya.

Sebagai perkenalan, Nanang mengaku, tidak terlalu jauh mengitari Kota Probolinggo. Di sisi barat, dia sampai di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan. Untuk wilayah Selatan sementara batasnya sampai Wonoasih.

Sebelah timur Kota Probolinggo, batasnya sebelum Desa. Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Pria yang sudah menikah 10 tahunan tersebut, berusaha makan siang di rumah, agar lebih ngirit.

Mengenai hasil, dia enggan menjelaskan. Yang penting, menurutnya, cukup untuk biaya sehari-hari bersama keluarganya. Saat berkelilng, Nanang hanya menerima permak saja, sedang untuk baju, celana baru, dibawa pulang dijahit di rumahnya, mengingat keterbatasan waktu.

“Saya kan punya 2 mesin jahit. Yang di rumah milik saya. Yang saya bawa ini kepunyaan mertua. Belinya tahun 1984,” tambahnya.

Rupanya, Nanang tidak mau kalah dengan pengusaha milenial yang melek IT. Meski seorang tukang jahit dan permak, ia mempromosikan usahanya di media sosial Facebook. Selain alamat rumah, Nanang juga menyertakan nama berikut nomor ponsel yang bisa dihubungi.

Saat ditanya bantuan dari Pemkot Probolinggo, Nanang mengaku sudah mendapatnya, yakni bantuan Covid-19. Sementara bantuan modal dan barang seperti mesin jahit, belum dapat. Meski begitu, ia tidak berharap apalagi banyak menuntut.

“Katanya bantuan untuk mesin jahit belum ada. Kalau nanti ada, mudah-mudahan dapat,” harapnya memungkasi. (mo/tp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *